PANIAI: TRAGEDI DAN DERITA PENGUNGSI
![]() |
| (Sumber: foto markas TPN/OPM Makodam IV Devisi II Paniai 2011) |
By: Amoye Kigodi Wiyai
SelintasKabupaten Paniai:
Kabupaten Paniai terletak di pegunungan bagian barat. Secara administrasi dimekarkan dari Kabupaten Nabire pada tahun 1969. Sebelumnya, ibu kota kabupaten nabire terletak di nabire sehingga semua administrasi pemerintahan diatur dari nabir. Namun setelah pemekaran, ibu kota kabupaten paniai ditempatkan di enarotali. Belakangan ini, sejak 2008, dua kabupaten baru dimekarkan lagi dari kabupaten induk Paniai, masing-masing kabupaten Deiyai dan Intan Jaya. Pada masa lalu daerah paniai sebagaimana daerah lain di tanah papua, pernah terjadi operasi besar, ingatan kolektif masyarakat di sekitar Danau-danau besar: Paniai, Tage dan Tigi, mempunyai kisah sejarah penederitaan yang cukup panjang: perang obano tahun 1956, perlawanan rakyat paniai tahun 1969 memprotes hasil penentuan pendapat rakyat (PEPERA) dibawah pimpinan Tuan Drs. Karel T. Gobai. Perang melawan militer indonesia di Kagokadagi kini pasir putih, dan perang Madi tahun 1981. Tiga peristiwa berdarah ini sangat melekat dalam ingatan masyarakat karena telah memakan korban dan menggores trauma. Selain itu, ketiga menjadi akar konflik masyarakat paniai sekaligus menjadi tanda suatu gerakan perlawanan rakyat.
Dalam perkembangannya, gerakan perlawanan rakyat Paniai melahirkan kelompok-kelompok yang menamakan oraganisasi papua merdeka (OPM). Kelompok yang pimpin oleh Simon Kogoya bergerak diwilayah Moni, kelompok yang bergerak di lembah Kamuu dipimpin oleh Yulius Goo; dan kelompok yang bergiat di tiga danu besar dipimpim oleh Tadeus Magay Yogi (disingkat: Yogi)
Pemeritah Indonesia menjawab kehadiran kelompok OPM dengan pemberlakuan status daerah Daerah Operasi Militer (DOM) di mana kelompok OPM aktif bergerak. Konflik, perlawanan rakyat, gerakan OPM, status DOM, operasi militer-semuanya menciptakan kondisi kehidupan masyarakat yang jauh dari rasa aman dan tenang.
Setelah lewat hampir tiga dasawarsa, ternyata dampak perlakuan DOM masih cukup nyata. Misalnya, pada tahun 1998 dilaporkan oleh sekitar keadilan dan perdamaian (SKP) mengenai pola kekerasan miiter terhadap masyarakat dengan dalih mengejaran terhadap kelompok OPM yang dipimpim oleh Yogi.
Selain tindak kekerasakan belakangan ketahui bahwa sajak tahun 1982, diberlakukan sejumlah kewajiban terhadap masyarakat desa yang sangat menekan dan memperdalam trauma yang sudah lama diderita, situasi sedemikian ini ternyata terus menjadi beban masyarakat hingga tahun 2000. Kini, mereka bercerita “ dibawah kaki gunung itu keluarga saya dibunuh, rumah ini dulu milik bapak saya nanum sekarang menjadi menjadi tempat kosong. Di bawah itu duluh orang bapa saya dipatahkan.” Ungkapan ini merupakan memoria passionis (ingatan penderitaan masa lalu) yang senantiasa hidup dalam sanubari rakyat papua hingga sekarang.
Peristiwa Eduda
Pada masa reformasi di mana demokrasi, hak asasi manusia dan keadilan hukum ditegakkan di Papua, pemerintah indonesia mestinya menempuh cara-cara yang beradab, demokratis dan bermartabat. Namun, kekerasan negara dan pelanggaran HAM masih terjadi di Tanah Papua, salah satunya di Paniai.
Pada bagian ini secara khusus kami akan mengulas peristiwa operasi tumpas yang dilakukan menjelang penyambutan Natal, 25 Desembe 2011 dan tahun baru 1 januari 2012.
Operasi eduda dilakukan oleh pasukan brimob dibantu oleh TNI dimulai sejak 13 Desember 2011. Namun apa yang terjadi pada 13 Desember sesungguhnya sebagai akibat dari permainan dan rekayasa aparat keamanan sebelumnya.
Peristiwa ini bermula penghadangan Jhon Yogi (pimpinan TPN/OPM di Eduda) dan teman-temannya oleh satuan dalmas polres Paniai pada jumat 29 juli 2011 lalu di madi. Pada saat itu, jhon cs hendak datang mengikuti acara peresmian paroki baru di madi oleh uskup Timika. Ketika Jhon Yogi tiba di perkampungan Madi, rombongan ini dihadang oleh satuan dalmas polres paniai dan sempat terdengar bunyi tembakan. Ketika dicek bunyi tembakan tersebut ternyata ditembakan oleh satuan dalmas untuk memulangkan Jhon Yogi yang datang hendak mengikuti acara presmian paroki di Madi. Persistiwa ini membuat umat yang hendak mengikuti acara itu menjadi panik, perstiwa ini dibenarkan oleh kapolres Paniai, AKBP Janus Siregas, S.IK. Kapolres menjaskan bahwa memang bena anggota kami memulangkan Jhon Yogi, sekalipun kami sudah sepakat bahwa mereka bisa datang mengikuti kegiatan peresmian gereja itu.
Tidak terima tindakan aparat kepolisian pada 29 juli 2011, Jhon Yogi pada 16 agustus 2011, pukul 02.00 WP melakukan serangan dan terjadi kontak senjata antara TPN/OPM yang bermarkas di Eduda dan TNI (Timsus 753) yang bermarkas di Uwibutu Madi. Kontak senjata terjadi di pusat kota Madi, ibu kota kabupaten Paniai, yang berakhir pada pukul 17:00 WP. Akibatnya masyarakat dari lima distrik mengungsi (distrik Agadide, distrik Pasir putih, distrik Kebo, distrik Paniai timur dan Yatamo) panik dan pengungsian besar-besaran ke hutan-hutan dan kampung-kampung jauh. Sementara itu, semua hasil kebun dan ternak milik warga dirampok dan dijarah sebagai bahan pelengkap tempur.
Kemudian dilanjutkan dengan pengiriman pasukan brimob dari kelapa II Depok (jawa barat) berjumlah 150 personil, dilengkapi senjata dan atribut perang diturunkan di Enarotali dengan pesawat PT. Trugana Air Service pada 2-4 November 2011. Mereka menempati kontor polres (baru) Paniai di Madi. Setelah tiba, pasukan brimob lakukan patroli di jalan raya dengan mengenakan atribut militer seperti dalam situasi perang.
Pada minggu 13 november 2011 kembali terjadi konflik di lokasi pendulangan emas di degeuwo, distrik siriwo, kabupaten Paniai. Konflik antara pasukan brimob dengan beberapa pemuda yang mencari emas. Akibatnya seorang pemuda tewas, namanya Matias Tenouye dan beberapa luka-luka.
Pada 9-19 November 2011 pasukan brimob melakukan pemeriksaan rumah-rumah warga sipil dibeberapa kampung seperti kampung Kogekotu (Enarotali), kampung Bapouda (Enarotali), kampung ipakiye dan kampung madi. Dan juga pada senin 14 november, polisi dan brimob parade militer keliling kota enarotali dan madi dengan mengendarai 12 kendaraan lengkapp dengan perlengkapan militer. Dalam penyisiran tersebut pasukan brimob menyita barang-barang milik masyarakat berupa parang, pisau, gergaji, martelu, mematahkan anak panah dan jubi. Mereka masuk rumah dengan sikap tidak terpuji merusak pintu dan jendela rumah warga serta menghamburkan semua barang yang ada dalam rumah.
Tindakan yang sama kembali terjadi pada senin, 21 november 2011, pukul 09.00 WP. Pasukan brimob masuk Mess kesehatan di Madi, penghuni rumah (mantri dan suster) dan masyarakat sekitar menjadi panik dan berusaha menghindar dari tindakan aparat tersebut. Pemeriksaan di kompleks yang sama terjadi pada minggu 27 November 2011 pada pukul 11.00 WP. Pasukan brimob melakukan pemeriksaan kamar-kamar rumah para pegawai diperumahan Pemda di Madi dan kampung Ipakiye.
Jumat 25 November 2011, pukul 09.00 pagi, pasukan brimob melakukan patroli di sepanjang sungai Weya dan sungai Eka di pinggiran danau Paniai. Pasukan brimob menempati dua buah rumah, yakni balai kampung Dagouto dan rumah milik GKII.
Keesokan harinya pada sabtu 26 November 2011 pasukan brimob melakukan penyisiran di kebun-kebun warga sipil di sepanjang perbukitan kampung Dagouto. Selain itu, pasukan brimob lain didatangkan lagi di Bibida dengan menggunakan dua truk sebanyak dua kali. Pada pukul 10.00 WP melakukan penggeledahan rumah-rumah warga Sipil di Bibida, kampung Koleitaga, kampung Polesugapa dan kampung Pagopugaida. Setelah itu pasukan brimob membangun kamp dan menempatinya di samping kantor distrik Bibida. Hal yang sama terjadi di Pasir putih. Pasukan brimob dengan mengendarai jonson (speeadboad) diturunkan di distrik pasir putih dari jam 09.30 hingga 15.30 WP. Kemudian 50 anggota brimob menempati kantor distrik Pasir Putih dan lainya menuju Komopa.
Pada selasa, 13 Desember 2011, pasukan brimob berusaha menduduki markas TPN/OPM Devisi II Makodam PMK IV Paniai di Eduda. Sehingga terjadi kontak senjata antara TPN/OPM dan pasukan brimob Inonesia. Kontak senjata bermula sehari sebelumnya, pada senin 12 Desember 2011, saat didatangkan helikopter perusahaan emas di Degeuwo pada hari pukul 09.00 WP. Sepanjang hari helikopter tersebut mendarat di kantor polres di Madi. Lalu, pada pukul 17.30 WP helikopter tersebut terbang dari arah timur ke barat dan keliling di atas markas TPN/OPM di Eduda. Helikopter itu menyalakan lampu sorot jarak jauh untuk pendaratan.
Pada selasa, 13 desember 2011, pasukan brimob berusaha menduduki markas TPN/OPM Devisi II Makodam PMK IV Paniai. Penyerangan dimulai sejak pagi diawali dengan penyomporotan gas air mata dari atas kelikopter pada pukul 07.00 WP. Kemudian pasukan brimob sebanyak 6 kali penerbangan diturunkan di salah satu bukit di markas Eduda. Ketika diturunkan, terdengar rentetan tembakan brimob. Tepat pada: jam 11.30 WP, helikopter kembali membawa pasukan brimob menyerang melalui darat dan juga melalui udara menggunakan sebuah helikopter.
Sementara itu, pasukan TPN/OPM berjumlah tujuh orang melakukan perlawanan guna mempertahankan markas mereka, diantara dengan menggunakan senjata tradisional, busur anak panah. Pasukan brimob menghangusbumikan rumah-rumah markas TPN/OPM di Eduda. Kontak senjata terus berlanjut hingga rabu 14 desember 2011, pukul 05.00 pagi.
Kini markas TPN/OPM di Eduda di kuasai oleh brimob dan membangun tiga buah kamp di tengah perumahan yang dibakar dan beberapa buah bendera merah putih berukuran besar dikibarkan di lapangan.
Data Korban Akibat Konflik
Konflik kontak fisik yang terjadi di kabupaten paniai telah menelan korban di kalangan masyarakat sipil. Mulai dari korban kehilangan tempat tinggal, harta benda, kebutuhan rumah tangga, kehilangan tanaman pertanian, korban luka-luka dan bahkan korban jiwa. Berikut data sementara yang didapatkan dari lapangan:
Korban harta benda
Kerugian dan pengorbanan yang terjadi menimpa warga sipil berupa material kebutuhan sehari-hari pada saat konflik kontak senjata terjadi. Berikut ini berbagai materil 1) pemebakaran rumah warga sipil sebanyak 78 rumah,2) perusakan dan penghancuran kebun warga sipil sebanyak yang tak terhitung jumlahnya, 3) pembunuhan ternak piaraan warga sipil, 4) fasilatas fasilitas sekolah.5) rumah-rumah ibadah gereja,6) turut dihilangkan dan dihancurkan alat-alat kerja warga sehari-hari.
Korban luka-luka
Korban warga sipil yang mengalami luka-luka pada saat konflik kontak senjata antara pasukan brimob dan TPN terjadi atas nama,1) Paskalis Kudiai (15), seorang pelajar terkena luka tembakan di bagian kepala,2) Yohanis Yogi (21), seorang pemuda terkena luka tembakan kaki,3) Mon Yogi (20), terkena luka tembakan pada punggung belakang.
Korban jiwa
Korban jiwa akibat kontak senjata antara brimob dengan TPN, Matias Tenouye (25) ditembak oleh pasukan brimob di distrik siriwo, Yustinus Agapa (30), ditembak oleh anggota polisi di distrik Kamuu. Di samping itu, ada beberapa korban ditemukan di tempat pengungsian di lima distrik di kabupaten paniai sebanyak enam orang meninggal di kampung Degeuwo; 1. Hana Degei (37), Jemi Degei (26), Oktopince Degei (20), Menase Degei (41), Mabipa Gobai (18) dan Silpa Kayame (32).
Daerah operasi pasukan brimob
Wilayah dan daerah yang dijadikan sebagai daerah operasi brimob dan TNI, meliputi lima distrik masing-masing;1) distrik Ugamo dengan 5 kampung/desa; ipakiye, madi Uwiibutu, Kopo, Timida, 2) distrik Wegamo dengan 3 kampung; Uwamani, Badauwo, Toko, 3) distrik Ekadide terdapat 4 kampung; Obaipugaida, Eyagitaida, Pasir putih, Geida, 4) distrik Bibida, Koleitaga, Polesugapa, Pogopugaida, 5) distrik Enarotali dengan 2 kampung, Kogekotu dan Bapouda.
Fasilitas umum terganggu
Adapun kerugian fasilitas umum akibat konflik di paniai, puskesmas 5 di kelima distrik tidak beroperasi. Aktivitas pemerintahan 5 distrik juga tidak berjalan dan lumpuh total. Aktivitas ekonomi lumpuh total. Aktivitas ekonomi lumpuh. Sekolah-sekolah tidak beroperasi, di antaranya SD YPPGI Uwamani, SD YPPGI Badauwo, SD YPPGI Kopo, SD IMPRES Madi, SD YPPK Timida, dan SMP YPPK Timida serta SMP YPPGI Uwamani.
Gereja-gereja tidak melaksanakan ibadah, semua jemaat mengungsi, dianntaraynya Gereja Katolik: Stasi Kinou, Stasi badauwo, Stasi Toko, Stasi Obaiyoweta, Stasi Dei, Stasi Eyagitaida, Stasi Timida, dan Stasi Madi, dangan Gereja Kingmi (GKIP): Jemaat Ipakiye, jemaat madi, jemaat uwidapa, jemaat kopo, jemaat dagouto, jemaat kopabutu, Jemaat Yagiyo. Serta Gereja GKII: Jemaat Tuakotu, Jemaat Dagouto, Jemaat Yagiyo, Jemaat Epouya, sementara kantor-kantor distrik dan kampung dijadikan kamp pasukan brimob.
Refrensi: Buku. Mati Atau Hidup (Markus Haluk)

Post a Comment