Header Ads

test

Persamaan Derajat Manusia Yang Semu Dalam Bergereja


Sumber: foto Ilustrasi Gereja

 By: Yagai Wiyai

Banyak teolog (para Pendeta/Gembala) selalu berbicara/khotbah soal kesamaan derajat manusia di hadapan Allah di mimbar gereja. Tetapi Ini Mungkin sebuah khayalan (utopis). 

Karena dalam praktik kehidupan jemaat dalam gereja  khotbah tersebut hanya sebuah premis, tanpa melihat Realitas kehidupan dalam bergereja dan, Jika kita melihat secara jelih dalam kehidupan berjemaat ada kesenjangan . Karena ada  kelas-kelas jemaat kemudian ada pula juga alat pemaksa "dogma,doktrin" agama-denomiasi.

Konkret  dalam praktik kehidupan berjemaat yang kelas-kelas, adalah; kelas Pendeta, donatur,cendikwiawan,majelis,, dll. Kemudian yang terasing adalah mereka yang kelas bawah dalam gereja   (jemaat tak punya harta).

Jemaat Kelas bawa acapkali di asingkan, karena dalam proporsional pelayanan pastoral ibadah keluarga, tunas sekolah minggu,pemuda di pila-pilakan "yang dapat jatah ibadah hanya kepada mereka yang punya uang dan rumah bagus "jemaat kelas atas" dalam menyediakan snak,teh dll.

Cara penerimaan tamu saat ibadah pun kadang tidak adil, karena saat indah berlansung jika ada jemaat kelas atas (cendikwiawan,donatur) di antara sampe pastikan harus duduk depan di kursi sofa. Tapi jika jemaat kelas bawah yang masuk pasti akan di biarkan dia duduk di samping dan/atau paling belakang.

Mendoakan Jemaat sering utamakan jemaat kelas atas apalagi kalau donatur yang akan masuk di bursa pencalonan Bupati,DPR,dll. Kendatipun Itu koruptor. Tetapi untuk mendoakan kelas bawah-kelas dan kelas paling tertindas (pencandu lem aibon,miras) tak selalu "sering" di doakan. Padahal dalam khotbah bicara soal kesamaan derajat di harapan Allah.


#Bongkar_penindasan_berkedok_Gereja.

#GPS

No comments