Header Ads

test

Pusaran Warisan Memorial

 

Foto: Atribut Negara West Papua 
Sesaat tertegun pada malam menuju bulan kudus yang hening. Pada desember yang selalu basah, ketika menguping bisikan warisan itu memutar. Saat ini, ada waktu ikut berhenti pula ketika senyaring nada alarm sejarah mengingatkan memorial tahunan dalam linkangan arloji kolonialisme.

Dia tak hadir sementara. Karena itu dirinya nyata dalam dunia yang selalu dijaga setiap tahunnya. Sambil berteduh di pelupuk mata, ruang relung dengan momentum binar kejora meluluhkan jiwa raga. Walaupun, di temui ringkih dan luluh tiap sudut yang di penuhi serdadu tirani. Jika bahagiamu menghayati embrio manifesto, lantas bagaimana harimu merintih di bawah cakar-cakar penindihan?

Teruntuk momentum

Setelah seharian ini, dunia akan berwajah berbeda. Puisiku akan menjadi sebuah kata dan terasa kehilangan makna tanpa menyiasati misterinya, seperti kaum koloni menanti momentum merayakan ingatannya. Lalu kemudian usang pada fatamorgana kehidupan yang penuh instrintik.

Waktu-waktu selanjutnya hidup akan kembali  buas. Membuatnya tak mampu membedakan, perkara mendasarmu di rayakan sebatas embrio atau dengan peluh gigih merebut dengan kolektivitas yang tak tertahankan. Kini tak tahu, apakah yang datang ialah keberanian tuk meronta atau akan hilang, lenyap lalu berdiam hanya menguping ratapan yang terkulai di ujung bedil tirani.

Kamerade

Aku ingin sekali esok kau bangun pada mimpi yang nyata, agar aku menyaksikan kau bernyanyi lagu-lagu revolusimu yang kau ciptakan liriknya sendiri. Karena nyatanya, selalu bising dengan volume speaker kolonialisme semakin padat menghengkang suara-suaramu di bawah nada pembungkamannya.

Walau, setiap waktu yang tak menunggu momen, yang seperti kita di bumi koloni selalu di perhadapkan pada jalan kebuntutan. Maju selangkah moncong bedil tirani kolonial mendarat di kepala. Mulut di tutup dan di jahit dengan benang hukum dan undang-undang. Tapi apa esok ada keberanian dalam dadamu yang semakin mengkristal dengan amarah karna penindihan itu..?

Teruntuk wasiatku

Sebabnya, esok ingin ku lihat tangan terus kepal mengacung dijalanan, kau akan menguasai dunia. Wajah-wajahmu terus mengibas debu jalanan tanpa tak kenal kompromi, maka kau akan menggetarkan dunia. Riak kakimu yang tak gentar pada bumi akan mengemakan kebebasan. Karena kebebasannya ada bersemayam bersama masa pada jalanan yang penuh debu dan kekiril serta gerah kaum gerylia.

Debu dan kerikil jalanan akan memperuncing jiwamu menolak tunduk pada ketakutan, karena ketakutan selalu memperpanjangkan barisan kezaliman dan penindasan. Jikalau kau bentangkan sayap-sayap keberanian, kukuhkan nurani secara keloktif maka kau akan runtuhkan tembok kolonial yang mengangkang nan menindih, dan dapat kau lihat bintang kejora di langit persada tanah airmu akan bersamfarinya.

Bumi Meeuwo, 01/12/2021

Giyai Aleks

No comments