Header Ads

test

Ampunilah Mereka karena Mereka Tidak Tahu.

 

Foto: Oktovianus Mote (Eks. Sekjen ULMWP)

Sejumlah teman dekat, kaka dan adik adik berseleroh, saya sudah jadi pastor bukan lagi pemimpin papua merdeka. Bukan, dalam pekan puasa ini saya justru sedang mengingatkan kita bagaimana pakai senjata terampuh yang sudah kita miliki dalam mengalahkan musuh, yakni kolonialisme yang sudah menjajah kita sejak 1 Mei 1963. Kolonialisme sendiri adalah virus warisan kolonial belanda dan ia berubah bentuk laksana bunglon sesuai tempat dan waktu. Untuk kalahkan musuh kita harus kenali musuh. Hanya bila kenal bisa pilih panah yang tepat, lepaskan diwaktu dan dari jarak terukur.

Soekarno yang pertama terjangkit virus kolonialisme warisan Belanda. Yakni ia dan didukung sejumlah ultra nasionalist seperti Mohamad Yamin, bertekad memasukan tanah papua sebagai bagian dari negara baru bernama Indonesia yang hendak dibentuk. Hatta berusaha ingatkan bahaya dari virus itu tapi kalah suara. Wabah dari virus ini menjadi pandemic yang luar biasa menyerang otak. Ditularkan dan terjangkit melalui pidato, buku buku propaganda, khotbah khotbah dan sebagainya. Dampak dari mereka yang terjangkit misalnya anggota tni dan polisi bisa sampai relahkan jiwa raganya, menghabiskan jiwa orang lain sebagai sebuah prestasi dan kehormatan.

Dalam benak manusia, Virus itu mampu mengubah wajah dari kolonialisme menjadi sebuah mission sacred, tugas suci. Yakni selamatkan orang papua yang masih belum maju, naikkan martabat monyet monyet papua jadi manusia agar bisa sama sama pakai pakain, sekolah mirip manusia, makan nasi makanan manusia, berobat dirumah sakit bukan andalkan apa yang Tuhan sediakan dialam sekitar kita.

Tapi sadarkah kita bahwa virus ini juga sudah terjangkit dan tersebar luas dalam diri orang papua? Dalam diri pejabat NKRI di tanah papua, dalam diri guru guru, dalam diri pendeta dan pastor serta uskup dan lain lain? Cara testnya muda, tidak perlu ke klinik swipe atau pakai aneka methods lain kecuali bertanya pada diri sendiri, apakah hati dan otak anda terima bahwa papua adalah bagian dari Indonesia? Kalau jawaban Ya, anda terjangkit dan perlu doa pembersihan diri anda dan minta Tuhan mengangkat virus itu. Kalau jawabannya tidak maka anda bersih dan lanjut mendoakan yang terkena virus. Hanya orang bebas bisa membebaskan orang lain.

Terkait dengan doa, Tuhan Yesus hanya ajar satu doa. Dalam doa Bapak Kami, Yesus syaratkan satu hal agar doa kita diterima yakni ampuni mereka yang bersalah kepada kita. Syarat ini amat penting namun juga paling berat karena itu Dia ingatkan berkali kali. Syarat ini bertentangan dengan naluri kita sebagai manusia: lawan mereka yang lawan kita, hukum mata ganti mata dan sebagainya. Itulah sebabnya pengampunan hanya bisa dilakukan dengan intervensi dari Tuhan, karena kemampuan itu diluar kemampuan kemanusiaan kita.

Saya tahu kita tidak tinggal diam. TPNOPM pasang badan membelah kita di kampung halaman, 102 organisasi lanjutkan petisi rakyat papua/PRP yang di dukung 6000 orang dan Majelis Rakyat Papua yang akan memperkarakan Presiden RI yang melanggar hukum yang mereka ciptakan sendiri dalam peradilan mereka sendiri. Di atas itu kita semua akan dukung gerakan mogok sipil nasional di seluruh tanah Papua. Semua penting dan kita perlu dukung.

Lalu apa hubungan doa puasa, yang bermakna pasif. Kenapa kita ampuni mereka yang sudah bantai kita habis habisan? Ini kenapanya. Setiap 5 februari kita ingatkan diri kita bahwa Papua adalah Tanah Injil. Para misionaris sudah persembahkan negeri kita kepada Pencipta Langit dan Bumi yang kita kenal melalui Yesus yang turun di bumi ini dalam rupa manusia kecuali dalam dosa. Dari atas salib sebelum hembuskan nafas terakhir ia berdoa Bapa ampunilah mereka. Itulah adat yang kita warisi bagi mereka yang hidup di tanah ini.

Pater Neles Tebai sudah coba pakai cara manusia, melalui dialogue kedua belah pihak duduk bicara, berusaha sadarkan virus warisan yang mematikan jutaan manusia dari Sabang sampai Maroke, hentikan dengan virus yang benar dan teruji keampuhannya dalam menciptakan papua sebagai tanah damai. Tapi itu gagal, digagalkan oleh kuasa setan, oleh keserakahaan untuk membunuh orang papua, mengambil kekayaan alam, menumpuk pangkat dan jabatan, Abadikan papua sebagai lahan konflik dan sebagainya. 

Itulah sebabnya saya nengajak kita untuk ingat bahwa seperti di Taman Eden, dosa Adam dan Hawa menurun sampai sampai suatu saat, Tuhan Allah menyesal kenapa dia ciptakan manusia dan hendak binasakan dengan segala ciptaanNya. Walau dengan menyesal Tuhan memang bersihkan dengan airbah, tapi ia selamatkan ras manusia dan segala isinya hanya karena ada satu manusia yang setia kepada Tuhan, Nuh. Keluarga ini siang malam bersekutu dalam doa kepada Tuhan, hari hari mereka isi dengan bangun kapal sesuai amanat Tuhan sendiri. 


Alkitab banyak memuat kisah kasih Allah serupa. Sejarah manusia penuh dengan fakta bagaimana Tuhan yang sudah terbukti membebaskan berbagai bangsa didunia ini, mengalahkan setan yang tampil dalam wajah kolonialisme. Hal itu amat sangat muda bagi Tuhan untuk wujudkannya. Syaratnya adalah itu tadi kita berdoa seperti doa pemimpin papua yang saya tulis minggu lalu.

No comments